Represif : Penyeragaman Pakaian dan Pikiran

Dalam wajah instansi pendidikan, sekolah di negeri ini, kita sudah sejak dini dibentuk dan diprogramkan untuk seragam dalam pakaian, harus patuh terhadap program itu tanpa bertanya kenapa. Seolah kita ini robot, yang menjalankan semua perintah sesuai program. Seolah kita ini bukan manusia, kreativitas dalam membentuk pribadi dan selera pun menjadi terkurung, pokoknya semuanya harus nurut.
Mind and Heart : http://theinevitablebusiness.com/wp-content/uploads/2017/04/mind-and-heart.jpg

Katanya, semangat pendidikan di negara ini sudah lepas bahkan memusnahkan segala bentuk kolonialisme. Alih-alih mengutuk penjajah, dalam prakteknya menyeragamkan keunikan individu. Jangankan pakaian, pikiran pun sudah diseragamkan, kita diajar untuk menjawab soal bukan dari pikiran sendiri dan jawabannya hanya dapat nilai 100% jika menjawab 100% sesuai dengan sumber yang sudah ditentukan guru.

Tak masalah dengan buku yang disarankan, tapi masih ada banyak jawaban lain yang bisa didapatkan selain satu buku. Satu sumber menjadi acuan untuk sekedar mendapatkan nilai 100%, kreativitas siswa menjadi tumpul. Kita tidak diajar untuk berpikir bebas dengan tanggung jawab dan menanggung konsekuensi, kita malah dibentuk dengan mental budak karena takut diberi nilai rendah dan stigma negatif.

Jika semua siswa berpikir sama, berpikirnya seragam, maka sama saja tidak ada kebebasan berpikir, karena setiap pikiran siswa itu beragam, bukan seragam.

Saya jadi teringat pada malam kemarin, saya menulis hal yang serupa di buku adik saya, bagian belakang, dengan sepercik kegelisahan saya dan harapan terhadap adik saya ke depannya.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram