Kualitas diri seseorang tidak selalu koheren dengan identitas yang ia gunakan, karena identitas tanpa sisi fungsional pragmatis secara simultan akan mereduksi kualitas diri tersebut. Kualitas tidak mengadakan dirinya sendiri tanpa perilaku seseorang, justru sebaliknya.

Namun bagaimana pun juga pemberian nilai pada perilaku seseorang kembali pada sang pemberi nilai yang berarti bahwa kualitas itu relatif. Akan tetapi jika nilai-nilai itu diberikan oleh moralitas normatif tertentu maka ia akan bersentuhan langsung dengan interpersonal yang berada didalamnya sehingga ada tuntutan imperatif untuk dipatuhi secara kolektif.

Oleh karenanya identitas merupakan konstruksi sosiokultural tertentu dimana identitas itu dibentuk bukan dari konsensus interpersonal yang bersebrangan dengan nilai-nilai yang telah diterima secara umum dalam lingkungan yang terbatas tersebut, sehingga identitas bersifat arbitrer oleh kelompok yang terikat dalam identitas ilusif itu sendiri.

Dalam mempertahankan eksistensi identitas yang seolah telah diletakkan pada diri kelompok tertentu, maka akan selalu ada doktrin radikal untuk memperjuangkan identitas tersebut sebagai tujuan utamanya padahal di lain sisi identitas itu bersifat pasif.

Manusia sebagai sang pengada, dengan segala kreativitasnya dalam menciptakan konsep identitas adalah subjek yang aktif dalam sebuah identitas. Karena identitas tidak lahir secara alamiah, walaupun penciptaan identitas tersebut melalui kondisi mental alamiah manusia.

Artinya segala hal yang abstrak, tersebut identitas, adalah ciptaan manusia sebagai makhluk yang penuh dengan absurditas kehidupannya. Karena manusia secara instingtif mempertahankan dirinya dalam homogenitas.

Sebenarnya identitas ini bukan persoalan yang esensial, namun terkadang manusianya saja yang menganggap bahwa ketika ia telah menjadi bagian dari identitas tertentu maka ia secara otomatis predikat yang dilekatkan pada identitas tersebut secara historis akan terintegrasi dengan predikat tersebut. Padahal predikat itu hanyalah sebatas klaim internal dalam kelompoknya sendiri yang bersifat eksklusif.

Ketika ada seorang manusia yang menganggap dirinya heroik ketika menggunakan identitas sebagai suatu hal yang sakral dalam dirinya sendiri maka akan menyamakan dirinya seperti persamaan linear yang saling terikat satu sama lain; antara subjek dan identitas.

Sehingga ketika ada seseorang yang mengatakan hal sebaliknya dengan predikat identitas kelompoknya maka dengan kemelekatan pada identitas kelompok tersebut akan membuatnya marah dan kemudian melawannya secara sentimental yang berujung ad hominem.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram