Kenapa Teis Masih Mempertanyakan Soal Kehidupan Kepada Ateis? Padahal Sudah Punya Pegangan Sendiri

Bam..tujuan pembuatan grup ini apa?
Trus bagi yg msih theis knapa mau aja bertanya soal kehidupan dan solusi kepada kaum ateis,kan lu pada udh punya kitab.
Gw jawab pertanyaan yang kedua saja ya, menurut gw pribadi dengan mempertanyakan sesuatu yang sifatnya sangat private apalagi bertanya tentang dinamika kehidupan dari seorang atheist.

Memang hal ini, mungkin terlalu berlebihan jika dikatakan atheist itu menyimpang dari masyarakat kita pada umumnya berdasarkan prinsip kehidupan personal. Karena hal yang menyimpang dari masyarakat adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya, namun mayoritas dalam pandangan hidup sekaligus pegangan untuk hidup sama sekali bukan alasan rasional mengenai kualitas, karena konsensus dalam bentuk apapun itu hanyalah mengenai kuantitas.

Kalau bertanya soal solusi kepada seseorang yang kebetulan orang itu adalah seorang atheist tanpa pedoman kitab suci, namun atheist tentu memiliki prinsip dasar masing-masing tentang kehidupan. Theist terkadang walaupun tidak semua masalah harus konsultasi ke atheist, atheist itu bukan solusi atas segala permasalahan. Mungkin saja atheist itu kalau ngasih solusi ya rasional, misalnya soal ketimpangan sosial-ekonomi, kalau theist biasanya nyuruh buat bersabar dan bersabar karena dirinya sedang diuji oleh Tuhannya, walaupun tidak semua theist hanya melakukan kesabaran atas masalah yang dihadapi.

Menurutku soal bagaimana cara menghadapi dinamika kehidupan dihadapan kita tidak ada hubungannya dengan latar belakang atheist ataupun theist, namun jika ada dogmatisasi tentang bagaimana cara menghadapi realita maka itulah yang dimintai kebebasan untuk memilih solusi.

Kalau ada theist yang --- punya manual book --- bertanya mengenai solusi tentang masalah yang dihadapinya saat ini di zaman modern, dan juga katanya dalam kitab suci itu segalanya sudah ada bahkan solusinya sudah ada bahkan kitab itu dianggap sakral oleh orang-orang tertentu sehingga dipercaya dapat memberikan solusi terbaik dari segala solusi karena solusi yang ditawarkan dalam kitab suci itu dipercaya adalah kata-kata Tuhan lepas dari benar atau tidaknya, lha ini kan soal imani saja toh.

Kemungkinan juga theist yang ---- punya manual book --- bertanya mengenai solusi tentang masalah yang dihadapinya saat ini dengan kesadarannya (subjektif) sendiri bahwa solusi itu sudah tidak tepat lagi pada peradaban sekarang ini, yang artinya solusi yang ditawarkan kitab suci yang digenggamnya saat ini tidak relevan dengan peradaban saat ini. Ya memang kitab manapun juga terikat dalam historisnya masing-masing.

Soal solusi umum dari pengalaman pribadi dari teman-teman theist kadang masih terbelenggu dengan dunia mistik yang irasional sehingga solusi yang diberikan berorientasi pada pengaitan suatu masalah dengan masalah lainnya yang sama sekali tidak ada hubungannya, dalam hal ini sebab-akibat yang tidak masuk akal. Namun, perlu dicatat bahwa masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah adalah perbedaan yang mencolok dari solusi yang ditawarkan mengenai permasalahan yang dihadapi lepas dari latar belakangnya apakah dia atheist atau theist.
Disqus Comments