PENTINGKAH KEHIDUPAN DI PESBUK

Tak sepenting orang lain inginkan dalam menjalani keberlangsungan hidupnya, kehidupan itu tak penting karena ada yang di prioritaskan selama ia hidup, ia hidup untuk mempersiapkan dirinya, seperti apakah dia setelah ia hidup?


Segala rekam jejaknya akan diperbincangkan oleh orang lain dan orang-orang yang melihat dan mendengarkan langsung dari orang yang sudah mati jelas sangat berbeda dengan orang-orang yang hanya mendengarkan cerita tentang orang yang sudah mati.

Bila hidup itu untuk kematian, apakah esensi dari hidup itu? Kematian juga bukan tujuan akhir karena kematian itu tidak bisa ditunda-tunda, jikalau kematian itu adalah tujuan akhir maka segala tujuan lainnya juga tidak perlu diperjuangkan untuk mendapatkannya, sebab tujuan yang diinginkannya itu adalah kepastian.

Tujuan yang diinginkan oleh hasrat adalah kemungkinan yang bisa terjadi, maka untuk itulah mereka berjuang demi merealisasikan tujuannya itu sebagai pencapaian hingga hasrat merasa puas, namun kepuasan itu sama sekali tidak ada batasannya menurut hasrat, hasrat itu pada awalnya adalah kekosongan, dari kekosongan itu ia selalu meminta untuk diisi apapun yang dia inginkan, bila suatu keinginan itu tercapai maka hasrat akan menciptakan keinginan baru.

Dan inilah sejatinya kehidupan yang sebenarnya tidak memiliki inti pada dirinya sendiri. Namun pikiran mampu menciptakan segala ilusi yang seolah-olah tujuan itu memiliki inti, padahal yang berisi itu bukan pada apa yang dicapainya sesuai dengan apa yang diinginkan hasrat itu, yang membuatnya seolah-olah berisi adalah usaha seseorang dalam proses untuk mencapai tujuan yang dibuatnya.

Proses tentu memiliki tahapan, dari tahapan itu terdapat banyak hal yang menghalangi, tapi dengan kegigihannya untuk terus berdiri sampai memegang tujuan yang ia buat sendiri. Ia merasa kenikmatan itu tergantung pada usaha yang lakukan selama proses mencapai tujuannya.

Apa yang ia rasakan setelah menikmati pencapaian akhirnya sebagai tujuan? Jika dipikirkan lebih mendalam, yang ada hanyalah kekosongan, sebab untuk menjadi sesuatu itu hanyalah ilusi, ia tidak nyata dan ia tidak menetap dalam dirinya sendiri.

Peradaban manusia sangat erat kaitannya dan bergantung pada pikiran manusia, kemajuan peradaban manusia bukan karena kemajuan teknologi, peradaban manusia ada pada pikirannya sendiri sebab hewan lainnya tidak memikirkan hal itu lebih maju, hewan itu punya instink, dengan instink inilah hewan hidup dengan seadanya, ia hidup disini dan saat ini, ia sama sekali tidak memikirkan masa lalu dan masa depan apalagi masa yang akan datang.

Tujuan yang dibuat manusia tidak dinikmati saat tujuan itu dibuat, maka dari itu tujuan hanya bisa dinikmati dimasa yang akan datang, pencapaian tujuan ada banyak cara untuk mencapainya.

Namun terkadang kita dipermainkan atas apa yang kita inginkan, kita terkadang terlalu larut memegang apa yang kita inginkan hingga tujuan yang kita buat itu sama sekali tidak membuat diri kita merasakan kebahagiaan, walaupun kita itu sudah berada pada target, namun perasaan bisa berubah ketika tujuan yang dicapainya itu tidak selaras lagi dengan apa yang dimaui oleh orang lain, kita kadang bersikeras untuk tetap memegang posisi itu hingga memaksakan orang sekitar untuk menerimanya, kesadaran muncul pada saat yang sama ketika orang-orang tidak lagi membutuhkan.

Disinilah batas keinginan dan kebutuhan dalam kehidupan yang terkadang membuat diri kita hidup dalam penderitaan. Sejatinya kita hanya butuh makanan untuk terus hidup, selain dari itu adalah keinginan dalm hidup.

Sejatinya saya hanya butuh kuota internet dan laptop untuk hidup di pesbuk, selain dari itu adlaah keinginan saya untuk hidup di pesbuk, namun jika dipikirkan lebih mendalam, hidup di pesbuk itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan. Qih Qih Qih
Disqus Comments