Thursday, 30 November 2017

Bumbu Kehidupan Itu Bernama "Kebenaran"

Standard
Ada sesuatu hal yang konyol dalam realitas kehidupan yang selama ini nampak begitu lucu di ruang publik. Ketika menampilkan dua sisi yang berlawanan atas nama "kebenaran" yang selama ini diperjuangkan oleh masing-masing kebenaran yang dipegangnya erat-erat di ruang publik pada saat yang sama dan saling berhadapan satu sama lain.


Mereka dengan semangatnya memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya "kebenaran" dihadapan kebenaran yang lain, dengan kata lain dua kebenaran yang saling menyatakan bahwa kebenaranlah yang mereka genggam adalah kebenaran yang sesungguhnya.

Mereka sudah tidak lagi peduli apakah "kebenaran" yang genggamnya itu memiliki kemungkinan yang salah diantara kebenaran lainnya yang juga digenggam oleh orang sekitarnya, mereka hanya benar pada dirinya sendiri.

Mereka juga tidak lagi peduli kepada siapakah mereka berhadapan, atas nama "kebenaran" yang digenggamnya harus diakui oleh semua orang tanpa terkecuali.

Mereka juga tidak lagi peduli untuk apa "kebenaran" itu dipergunakan, seolah kebenaran itu adalah kehidupan yang seharusnya digenggam oleh manusia.

Kita telah menyatu dengan sesuatu yang ada disekitar kita, kita bukan lagi sesuatu yang lain diantara sekitar kita. Sesuatu yang ada disekitar kita juga diri kita yang lain, namun diri yang lain itu merupakan kesatuan diri kita sendiri sehingga kita tidak lagi merasakan kesendirian dalam hidup.

Kini kehidupan bukan lagi soal menjalani hidup, namun kehidupan sudah menjadi soal mempertentangkan realitas yang dialaminya. Kompleksitas kehidupan terlalu dangkal ketika ingin hidup sesuai dengan apa yang diinginkan oleh hasratnya. Hasrat yang tidak memiliki kedalaman yang jelas ia penuhi dengan kebenaran semu yang ia ciptakan.

Pemaknaan atas kehidupan seolah hanya memiliki satu sisi kebenaran, kebenaran yang selalu menginginkan satu arah. Arah yang diciptakan juga tidak jelas ujungnya kemana, ia hanya tahu bahwa arah itu memberikannya petunjuk atas kebenaran yang selama ini ia pegang erat.

Ketika mereka bertemu dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran yang ia miliki ia akan melakukan pemberontakan agar mereka yang tidak memiliki kebenaran yang sama ikut berada dalam kebenaran yang dimilikinya.

Memberontak atas kenyataan yang dihadapinya merupakan masalah bagi dirinya sendiri, memberontak bukanlah solusi yang tepat untuk menunjukkan kebenaran yang digenggamnya, ketika kebenaran disuarakan dengan keras dan tindakan yang tidak ada kaitannya dengan kebenarannya dibawanya akan membuat kebenaran itu nampak samar-samar dihadapan orang sekitarnya, ia tidak lagi menampilkan kebenaran, ia hanya menampilkan kefanatikannya atas apa yang dianggapnya sebagai kebenaran.

Kebenaran hanyalah sudut pandang, sudut pandang yang menyeluruh atas kebenaran akan membebaskan diri dari segala nilai mutlak untuk terus benar. Membebaskan diri dari kebenaran akan melepaskan diri kita untuk melakukan pembenaran atas kebenaran yang kita anggap benar dihadapan kebenaran yang lainnya.

Kebenaran tidak akan pernah berubah pada dirinya sendiri jika kefanatikan akan kebenaran itu lenyap, kebenaran sebagaimana diri kita menyikapi kebenaran itu sendiri, kebenaran itu diam pada dirinya sendiri. Kebenaran tidak digerakkan, namun yang dianggap kebenaran itu dapat dimanipulasi oleh pikiran, sebab pikiranlah yang pertama kali menciptakan segala bentuk konsep kebenaran.

Sesuatu yang dianggap suatu kebenaran pada masa lalu, akan dianggap kebenaran lainnya dimasa kini.

Sesuatu yang juga dianggap suatu kebenaran pada masa kini, juga kemungkinan akan dianggap kebenaran lainnya dimasa yang akan datang.

Dan mungkin apabila sesuatu yang dianggap suatu kebenaran pada masa yang akan datang itu telah tiba, kebenaran dimasa lalu akan dianggap sebuah kebenaran pada saat itu. Dengan kata lain, kebenaran itu hanya ada pada masanya sendiri, kebenaran itu terikat oleh ruang dan waktu.

Apabila ada seseorang atau sekelompok tertentu dengan semangatnya membawa sesuatu yang dianggapnya sebagai "kebenaran" dengan kefanatikannya, ia bukan membawa kebenaran. Ia hanya membawa egonya untuk berkuasa atas nama kebenaran. Kebenaran tidak meminta manusia untuk menyebarkannya dengan cara yang berlebihan diluar dari esensi kebenaran itu sendiri.

Sesuatu yang dianggap kebenaran dengan cara yang berlebihan akan bermuara pada kerusakan, kefanatikan akan kebenaran mengancurkan keseimbangan hidup diantara orang-orang disekitarnya.

Kehidupan itu tentang pengalaman atas kehidupan, kemudian pengalaman yang dijalaninya memunculkan pemaknaan ataas kehidupan. Kehidupan yang begitu pelik bukan hanya soal bagaimana hidup dengan benar, dengan kata lain hidup dalam kebenaran.

Dalam menjalani hidup tentu kita punya pengalaman yang berbeda-beda bahkan pengalaman yang sama namun pemaknaan atas pengalaman itu berbeda. Dari pengalaman itulah yang kemudian diciptakan kebenaran oleh manusia. Inilah kehidupan, kebenaran juga tidak lepas dari pengalaman manusia. Mungkin terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kebenaran itu sangat erat kaitannya dengan manusia pada umumnya.

Aku berani untuk menjalani kehidupan bukan karena ketakutan dalam menjalani kehidupan, aku berani menjalaninya bukan karena kebenaran yang aku pegang selama hidup. Justru dengan ketidakbenaran dan kebenaran yang diciptakan oleh manusialah yang membuat aku terus berada disini hingga kembali ke suatu titik dimana aku tidak lagi menjadi sebuah kebenaran diantara manusia lainnya.

Kehidupan dengan realitas membuat hidup tanpa bumbu akan kepuasan pujian, realitas itu apa adanya tanpa konsep. Manusia menciptakan berbagai konsep untuk memberikan semangat hidupnya, dengan bumbu itulah yang membuatnya semakin semangat untuk melakukan segala yang yang dianggap unik bagi orang sekitarnya, ia gila akan pujian, sementara realitas sama sekali tidak membutuhkannya.

Aku tidak lagi hidup bersama racikan yang dibuat seperti orang-orang disekitarku, yang membuat hidupnya menderita karena menganggap segala nilai benar-salah, baik-buruk, indah-jelek memiliki inti pada dirinya sendiri. Kini ku hidup dengan realitas apa adanya, menikmatinya tanpa menyesali segala pilihan dalam kehidupan yang pelik ini.

Penderitaan terbesar manusia dalam menjalani kehidupan adalah konsep yang diciptakannya sendiri, aku tidak lagi inginkan konsep itu muncul menghantui bahkan membuat diriku sengsara atas hasrat yang penuh dendam atas pengalaman pahit yang pernah aku alami, menyuarakan kebenaran sama sekali tidak membuat penderitaan itu hilang, penderitaan itu hanyalah redup sementara waktu ketika ego akan kebenaran itu dipegang erat-erat.

Jika aku memilih seperti ini apakah aku salah? apakah aku benar? kebenaran dan ketidakbenaran bukan lagi masalah bagi diriku sendiri, aku menikmatinya tanpa harus melibatkan orang disekitarku untuk ikut menikmati pilihanku.

0 comments:

Post a Comment