Aku Tahu Bahwa Aku Tidak Tahu Tentang Kehidupan Setelah Kematian

Orang yang masih hidup terlalu ambisius untuk tahu segala hal tentang kematian sampai ia dibunuh karena ingin tahu apa yang ada dalam kematian, sementara orang yang sudah mati tidak pernah memberitahu segala hal tentang kematiannya kepada orang yang masih hidup.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang yang masih hidup untuk menuju kematian, tapi orang yang sudah mati tidak punya satu pun cara untuk bangkit dari kematiannya.

Ada banyak hal kemungkinan yang bisa membuat orang yang masih hidup untuk bertahan hidup, tapi orang yang sudah mati tidak memiliki satu pun kemungkinan untuk kembali hidup.

Orang yang pernah hidup memberikan tanda - tanda atau simbol saat ia menjalani kehidupannya agar orang-orang yang ada di sini dan saat ini tahu akan eksistensi mereka yang pernah hidup. Namun orang yang sudah mati tidak pernah memberikan satu pun tanda dan simbol tentang kematiannya hingga saat ini.

Ada sesuatu hal misterius bagi orang yang masih hidup saat ini, yaitu kematian. Bukan kematian yang menimbulkan teka-teki bagi mereka, kehidupan setelah kematian lah yang menjadi tanda tanya besar bagi mereka yang memiliki ego untuk terus hidup.



Semua yang hidup pasti "ada", namun tidak semua yang "ada" itu hidup.
Semua yang mati pasti "ada", namun tidak semua yang "ada" itu mati.
Semua yang hidup pasti "pernah ada", namun semua yang "ada" bukan berarti semuanya hidup.
Semua yang mati juga pasti "pernah ada", namun semua yang "ada" bukan berarti semuanya mati.

Antara ada dan tiada itu dua hal yang berbeda, "ada" yang ada tanpa diciptakan oleh manusia, "ada" yang ada diciptakan oleh manusia. Apa yang sungguh ada? Sederhananya ada itu ada sedang tidak ada itu tidak ada. Namun homo-sapiens itu memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan hewan lainnya yang ada atau hewan yang pernah ada sebelum manusia ada di bumi bulat ini. Homo sapiens memiliki pikiran (akal budi) yang mampu menciptakan banyak hal seperti; bahasa, teknologi, nilai, negara, komunitas, budaya, agama, dewa dsb. Inilah yang membuat homo-sapiens saat ini menjadi sang penguasa diantara hewan-hewan lainnya, ia mampu mengalahkan hewan buas lainnya hanya dengan pengetahuannya yang selama ini hingga saat ini masih melakukan penelitian tentang segala yang ada di sekitarnya , mereka melakukan hal itu semua untuk kemajuan homo-sapiens, jikalau pun ia mengatakan bahwa ia melakukan ini semua demi alam ini, ketahuilah bahwa yang ia lakukan itu semata-mata bukan karena alam ini, tapi kepentingannya sendiri untuk terus bertahan hidup.

Homo-sapiens tidak hanya menciptakan sesuatu yang konkrit, selain itu homo-sapiens juga mampu menciptakan sesuatu yang abstrak. "Ada" itu tidak harus "ada" dalam bentuk fisik atau sederhananya ada itu bisa di inderawi. Memang seperti itu, namun ada yang ada dalam pikiran manusia itu memiliki makna, katakanlah bahwa bahasa tanpa pengalaman itu merupakan kekeringan tanpa makna.

Bagaimana kalau ada kehidupan setelah kematian? Bukankah hal ini merupakan sesuatu hal yang berada diluar pengalaman manusia, dari sekian abad lamanya homo-sapiens mencari tahu apakah kehidupan setelah kematian itu sungguh ada, sebenarnya bukan kehidupan setelah kematian yang ingin ia ketahui tetapi konsep surga dan neraka  lah yang ingin mereka ketahui, sebab keadilan yang ingin mereka dapatkan setelah mereka mati atas apa yang telah mereka lakukan selama ia menjalani kehidupan. Namun dari sejarah homo-sapiens hingga sekarang tidak pernah ada yang mampu memberikan dan menerapkan keadilan bagi semua homo-sapiens karena keadilan bagi semua homo-sapiens itu hanyalah harapan semata yang selama ini terus diperjuangkan

termasuk diri saya sendiri kepada diri saya sendiri apalagi kepada diri yang lain. Namun apakah kehidupan setelah kematian itu ada? Inilah pertanyaan mendasar untuk tahu terlebih dahulu kehidupan setelah kematian kemudian menuju kepertanyaan berikutnya, apakah keadilan setelah kehidupan itu adil bagi dirinya sendiri ataukah timbangan keadilan itu sama sekali tidak merata bagi segala homo-sapiens? .

Disini dan saat ini saya pernah ditawarkan banyak konsep keadilan (hukuman dan hadiah) setelah kematian dari teman-teman sekitar, mereka menawarkannya dalam satu paket, dalam satu paket ini terdapat banyak hal didalamnya yang hampir menyerupai namun tak sama, dan bukan hanya keadilan (hukuman dan hadiah) yang mereka tawarkan kepada saya. Segala dimensi aspek kehidupan ditawarkannya kepada saya, namun untuk sementara saya menolaknya tanpa mengatakan bahwa apa yang ditawarkannya itu berada dalam penilaian benar-salah / baik-buruk. Saya bisa saya menerimanya tanpa harus menjadi bagian dari apa yang mereka tawarkan, saya punya nilai bagi diri saya sendiri. Jika hanya untuk berbuat baik harus menggunakan label maka hal itu menurut tentu tidak netral, karena menggeneralisasikan suatu label itu merupakan bagian dari kesesatan berpikir yang bisa memicu terjadinya konflik antar label.

Dari sekian banyak tawaran yang saya dapatkan semakin membuat saya melihatnya sebagai sebuah produk, produk itu untuk saya gunakan, produk itu harus sebagaimana adanya sesuai dengan apa yang saya butuhkan dan tidak membuat diri saya terpisah dari diri yang lain karena hanya mengomsumsi produk itu, sehingga saya tidak mendewakan sebuah produk diantara produk lainnya, karena produknya sama saja tapi yang membedakan hanya merek yang ia gunakan pada produk tersebut. Segala yang diciptakan homo-sapiens itu tentu merupakan bagian dari homo-sapiens, dengan kata lain sebuah produk itu untuk homo-sapiens bukan homo-sapiens untuk sebuah produk.

Oh iya, sales sebuah produk bermerk internasional sekarang menggunakan teknik marketing yang menjanjikan kemajuan produk agar terus tetap exist laris di pasaran walaupun produk itu sama sekali bukan kebutuhan pasar. Mereka hanya perlu mengancam calon konsumer agar mereka membelinya karena ketakutan. Ada yang mau coba?

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram