Friday, 24 November 2017

Ada Tinja Terselubung Dibalik Tjinta

Standard
Cinta dalam teori emosional bisa saja terlihat rasional, namun dibalik rasionalitas emosional atas cinta sama sekali tidak menggunakan rasio untuk berpikir kritis bahwa sesuatu yang rasional bisa saja menjadi frame tanpa cela sehingga sesuatu yang irasional tidak dipikirkan sama sekali walaupun irasional tentang emosional atas cinta telah dialami sendiri melalui pengalaman personal.


Dibalik cinta yang melulu dipahami adalah sesuatu yang apa adanya, bahwa tidak ada kepentingan personal dibalik cinta yang "apa adanya". Memang tak akan pernah ada cinta pra-kesadaran yang datang melalui tanpa adanya kebebasan, kebebasanlah yang membuat cinta itu datang, namun apakah cinta itu datang dengan sendirinya sehingga tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan darimana atau sejak kapankah cinta itu muncul? Bukankah cinta itu tentang emosional antara subjek dan objek yang mencintai dan yang dicintai sehingga apa adanya itu nampak namun yang "ada apanya" dikaburkan dari pencerapan inderawi?

Cinta bukan hanya tentang apa adanya, namun cinta itu juga ada apanya. Memang dua hal ini terlihat berbeda, namun kedua ini datang bersamaan. Ada keutamaan dibalik cinta, keutamaan yang menjadi tujuan. Tujuan yang selama ini diimpikan, untuk terus direalisasikan melalui komitmen untuk saling memiliki.

Cinta juga bukan hanya soal ada apanya semata, namun cinta itu juga soal siapa yang menguasai dan siapa yang dikuasai. Inilah yang saya maksudkan dari cinta yang ada apanya. Dengan kata lain, ada tujuan lain yang menjadi spiritnya untuk saling memiliki agar lebih mudah untuk mendapatkan sesuatu yang tersembunyi selama itu. Sehingga cinta bukan hanya pada "to have" tetapi juga pada "to get". Cinta yang merupakan alasan untuk mendapatkan sesuatu berupa material, merupakan sarana yang paling mudah untuk menguasai pikiran orang yang merasa dicintai. Orang yang merasa dicintai juga akan menjadikan orang yang dicintainya sebagai superior sehingga apapun bisa diberikan asal dia bahagia.

Sikap kritis terhadap orang yang dicintai ataupun orang yang katanya mencintai diri kita memang sesuatu yang hal bisa saja bermuara desktruktif pada cinta itu sendiri, namun sikap kritis atas kecintaan yang buta justru bermuara pada konstruksi antara orang yang mencintai dan orang yang dicintai jika orang yang dicintai dengan kejujurannya untuk mengatakan yang sebenarnya sehingga cinta yang "apa adanya" dengan sebuah ketulusan yang menjadi landasan mengapa manusia dengan nama cinta perlu berkomitmen atas hubungan sosial mereka.

Cinta? Cinta hanya representasi atas idealisme tentang cinta. Cinta sudah lama ada sejak manusia lahir di bumi datar, khodrat manusia memang untuk kebaikan. Berkehendak baik sudah merupakan bentuk dari sikap mental kebaikan lepas dari apakah hal itu baik atau tidak menurut orang yang menerima tindakan itu. Jika cinta hanya terbatas pada hetero-normatif berdasarkan demokrasi langsung yang selama ini menjadi parameter suara terbanyak, maka siapa yang banyak itulah dipakai menjadi acuan dalam norma mengenai cinta.

Kebebasan untuk mencinta memang hak dasar manusia, namun hak itu mulai terbatas pada konsensus dalam suatu norma masyarakat yang tertutup atas dasar etika dan moral.

Apakah cinta terikat moral? Sehingga menuntut manusia untuk tunduk pada standar moralitas yang ciptakan oleh manusia terdahulu. Cinta yang terikat moral yang telah dikotak-kotakkan dalam hetero-normatif juga menuntut manusia untuk tunduk sehingga cinta itu sendiri hanya sekedar mengikuti hetero-normatif dengan tujuan yang lain, karena ingin bebas dari konsekuensi hukum hetero-normatif tersebut. Bukankah lebih baik manusia taat pada norma atas cinta karena memahami cinta universal itu sendiri sebagaimana mencintai alam semesta merupakan bentuk kecintaan yang universal? Sehingga segala yang ada dialam semesta ini dapat dicintai walaupun yang dicintai sama sekali tidak memberikan reaksi timbal balik. Memang cinta alam semesta itu rasional namun ada sesuatu yang irasional ketika mencintai sesuatu hal yang masih berpijak pada alam semesta itu sendiri.

Dan legalitas cinta hetero-normatif sama sekali bukan cinta universal, kompleksitas atas cinta universal itu adalah moralitas tertinggi manusia yang menjadi kewajiban kehendak berbuat kebaikan, cinta untuk manusia bukan manusia untuk cinta. Cinta hanya berperan pasif namun manusialah yang sungguh berperan aktif untuk mewujudkan esensi cinta.

0 comments:

Post a Comment